Nasib Ratusan Mangrove Diujung Pacok Beco, Diduga Normalisasi Kali Beting Kangkangi Aturan Perhutani

Kab. Bekasi, swatantranews- Adanya Kegiatan normalisasi di sepanjang sungai kali beting tepatnya di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi. Kegiatan normalisasi tersebut berdampak  ratusan pohon dan anak mangrove  yang telah menancapkan akarnya bertahun-tahun menahan abrasi diduga dirusak dengan dalih normalisasi tanpa SOP yang jelas.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, (KLHK), Deden perwakilan Bekasi dan karawang, melalui pesan WhatsApp kepada media. Mengatakan, terkait kegiatan normalisasi dari awal juga secara tahapan prosedur tidak bersurat dengan perutani dan tidak berkoordinasi juga, ucapnya. Senin (14/08/2023).

“Programnya mah bagus, berupaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar desa hutan yang punya lahan andil garapan di wilayah kerja Perhutani,  biar bagaimana  saluran sangat membantu sirkulasi masuk nya air laut ke sejumlah tambak , ” Kata Deden

Hanya disini ada kelalaian dari pihak pemegang tender diantara, tidak bersurat kepada pihak  perum Perhutani KPH Bogor terkait giat normalisasi sedangkan obyek (Kali) masuk ke wilayah kerja perhutani/aset kawasan hutan negara, terang nya.

Tambahnya, sebelum kami turun mengecek kegiatan normalisasi kali Beting, kami mau minta arahan pimpinan dulu pak. Singkatnya.

Sementara itu, Tim Investigasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Baladaya, mengatakan, diduga Kebidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) pada Dinas Sumber Air Bina Marga Kontruksi (DSDABMBK). dengan pekerjaan normalisasi kali beting, standar operasional prosedur (SOP) dalam pelaksanaan normalisasi saluran kali Beting ini maupun sungai.

“Seharusnya normalisasi saluran atau sungai harus ada SOP-nya, mengingat sungai yang ada di Muaragembong kondisinya bermacam-macam,”kata Guntur.

“kita mendorong dalam pelaksanaan normalisasi ini harus diimplementasikan secara tepat, sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan perusakan lingkungan,” sambungnya.

Dia berharap, (PSDA) lebih komunikatif ketika hendak melakukan normalisasi. Semisal normalisasi di lingkungan konservasi, seperti di mangrove Muaragembong. Maka perlu dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pemerhati lingkungan, supaya ada persepsi yang sama.

“Sampai Berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari Kepala Bidang PSDA yang diminta keterangannya,” jelasnya.

(*/ Cep)

Pos terkait

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *