Kartini, Chairil Anwar, dan Generasi Muda: Kabupaten Bekasi Torehkan Manifesto Kebudayaan di Peringatan Hari Tari se-Dunia

Oplus_131072

BEKASI SWATANTRANEWS — Malam ini, denyut kebudayaan bergetar dari ruang-ruang ekspresi yang dipenuhi cahaya kata dan gerak. Kegiatan “Tribute Chairil Anwar ~ Habis Gelap Terbitlah Kata” yang dihelat di Teras Gedung Juang 45 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi pada, Kamis (30/4/2026) bukan sekadar pergelaran seni, melainkan pernyataan zaman bahwa sastra, budaya, dan semangat emansipasi tetap menjadi nadi kehidupan bangsa. Berpijak pada amanat konstitusi, khususnya Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 yang menegaskan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia, acara ini menjelma menjadi panggung kesadaran kolektif: bahwa kebudayaan bukan peninggalan, melainkan perjuangan yang terus diperbarui.

Rangkaian acara tersusun rapi dalam alur dramatik yang mengalir dari pembukaan teatrikal “Kartini Bangkit” hingga puncak penghormatan terhadap Chairil Anwar yang dipertunjukkan oleh Sanggar Light Dream Anak Indonesia (LDAI) berkolaborasi dengan sastrawan senior yang sering berkiprah di Taman Ismail Marzuki (TIM), Dyah Puspito Kencono Dewi. Setiap detik bukan sekadar hiburan, tetapi pengingat akan mandat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan. Di panggung ini, generasi muda tidak hanya tampil namun mereka berbicara, menggugah, dan menawarkan arah.

Tari tradisional, musikalisasi puisi, hingga monolog kritik sosial berpadu menjadi satu lanskap artistik yang kaya makna. Dari Ronggeng Beken yang dinamis hingga eksplorasi Sanggar “HANUPIS NUSANTARA” asuhan Nyana Santoso yang sarat simbol luka (menari tanpa panggung dengan tata suara seadanya) dan kebangkitan, setiap gerak adalah bahasa yang tak terucap, namun terasa. Inilah wajah Bekasi yang hidup: berakar pada tradisi, namun berani menatap masa depan dengan gagah.

Dalam sesi sastra, puisi-puisi dilantunkan bukan sekadar sebagai estetika, melainkan sebagai suara batin putera nusantara. Kritik sosial disampaikan dengan gaya yang menghibur namun menggigit, sejalan dengan semangat kebebasan berekspresi yang dijamin dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Panggung menjadi ruang demokrasi kultural dimana tempat gagasan diuji, emosi dilepas, dan harapan dirumuskan.

Dewan Pembina RUMAH HEBAT NUSANTARA, Rissa Curia, dalam pernyataannya menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari gerakan kebudayaan yang berkesadaran hukum dan nilai, “Kebudayaan bukan sekadar pertunjukan, tetapi instrumen peradaban. Kita ingin generasi muda memahami bahwa setiap ekspresi seni memiliki pijakan konstitusional, bahwa mereka berhak bersuara, berkarya, dan membangun bangsa melalui jalur kebudayaan,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.

Pernyataan tersebut disambung oleh Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpora Kabupaten Bekasi, Roro Rizpika, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, “Pemerintah Kabupaten Bekasi hadir bukan untuk membatasi, tetapi memfasilitasi. Kegiatan seperti ini adalah implementasi nyata dari pemajuan kebudayaan yang inklusif dan partisipatif,” tuturnya, Kamis (30/4/2026).

Roro menambahkan, kita (Pemkab Bekasi-red) harus memberikan ruang memadai, baik dari panggung maupun tata suara yang memadai untuk putera/i Bekasi yang penuh talenta seperti yang tergabung dalam Rumah Hebat Nusantara, Gedung Juang 45 Tambun Selatan ini dapat mereka berkarya menciptakan berbagai kreasi yang dapat mengharumkan nama Kabupaten Bekasi. Ya Bu yaa? Ujarnya kepada Ani Rukmini.

Mengamini hal tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi, Dra. Hj. Ani Rukmini, M.I.Kom., menegaskan bahwa dukungan legislatif akan terus mengalir bagi kegiatan yang memperkuat identitas dan karakter bangsa, “Ini bukan sekadar event, ini adalah investasi peradaban,” tegasnya.

Menutup rangkaian pernyataan, Dewan Penasihat RUMAH HEBAT NUSANTARA, Dyah Puspito Kencono Dewi, menyampaikan refleksi yang menggugah, “Dari Kartini kita belajar tentang cahaya, dari Chairil Anwar kita belajar tentang keberanian. Malam ini, kita menyatukan keduanya dalam satu napas kebudayaan agar bangsa ini tidak hanya hidup, tetapi juga bermakna.” Pungkasnya.

Acara ini turut disupport oleh Go Wet Waterpark Grand Wisata Tambun Selatan, Coca Cola Europacific Partners Indonesia, Polsek Tambun Selatan, serta Social Bandits Band, yang menjadi bagian dari ekosistem kolaboratif dalam memajukan ruang-ruang kreatif. Ketika negara, masyarakat, dan sektor swasta berjalan seiring, maka kebudayaan tidak lagi berjalan sendiri, ia menjadi arus besar yang menghidupkan bangsa. Malam ini bukan akhir, melainkan awal dari gelombang kesadaran baru: bahwa dari gelap, terang harus terus diperjuangkan.
(CP/red)

Pos terkait

banner 728x250