BEKASI – Puluhan petani yang tergabung dalam komunitas Penggerak Gotong Royong (PGR) wilayah Utara mendatangi Kantor Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (DSDA-BMBK) serta Kantor Bupati Bekasi pada Kamis (05/02/2026). Kedatangan mereka bertujuan untuk menagih janji terkait penyelesaian proyek infrastruktur air yang hingga kini terbengkalai.
Proyek Mangkrak, Janji Melandai
Aksi ini merupakan tindak lanjut dari audiensi tahun lalu dengan dinas terkait dan pihak kontraktor, PT Nauli. Proyek yang dipersoalkan adalah pembangunan Bendungan Sungai Hilir (BSH) 0 di Pintu Air Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL).
Meski telah berjalan sejak tahun 2025 hingga memasuki 2026, proyek tersebut tak kunjung rampung. Koordinator PGR, Ustadz Jejen Zaenudin, menyatakan kekecewaannya dan menyebut pihak Dinas SDA hanya memberikan janji manis tanpa bukti nyata.
“Katanya proyek BSH 0 selesai akhir Januari 2026, nyatanya sampai sekarang belum beres. Kami datang untuk menagih janji Kepala Bidang (Kabid) saat audiensi di kantor PT Nauli dulu. Kami merasa dipermainkan,” ujar Jejen kepada awak media.
Aduan kepada Plt Bupati Bekasi
Selain mendatangi kantor dinas, massa juga menyambangi kantor bupati dengan harapan dapat bertemu langsung dengan Plt Bupati Bekasi, Dr. Asep Supria Atmaja. Jejen menegaskan bahwa kedatangan mereka telah melalui prosedur resmi dengan melayangkan surat tembusan ke berbagai instansi, mulai dari BBWSC, Dinas LH, hingga kantor bupati.
Senada dengan Jejen, Muhammad Fauzi, perwakilan petani lainnya, menegaskan bahwa mereka tidak akan pulang sebelum bertemu Plt Bupati.
“Kami ingin menyampaikan langsung kepada beliau. Plt Bupati harus menindak tegas dinas terkait maupun PT Nauli. Kami sudah bosan dengan janji-janji,” tegas Fauzi.
Kerugian Materiil dan Dampak Lingkungan
Molornya pengerjaan proyek BSH 0 ini membawa dampak fatal bagi sektor pertanian dan lingkungan:
- Kerugian Ekonomi: Petani mengaku rugi hingga ratusan juta rupiah akibat gagal tanam dan gagal panen.
- Bencana Banjir: Terhambatnya aliran di bendungan memicu luapan Kali CBL yang menyebabkan banjir di permukiman warga di hulu Kali Cikarang.
Hingga berita ini diturunkan, para petani masih menunggu kepastian dari pihak pemerintah daerah agar proyek tersebut segera diselesaikan demi menyelamatkan mata pencaharian mereka. (M. Hasan)








