BEKASI Babelan – Kamis (5/2/2026), suasana di Pusat Studi Bahasa Arab (PUSIBA) Kelurahan Bahagia tampak lebih sibuk dari biasanya. Deretan kendaraan dinas dan seragam khaki memenuhi area parkir, menandakan sebuah perhelatan penting tengah berlangsung. Di dalam ruangan, aroma kopi dan gemuruh diskusi tipis menyambut dimulainya Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Babelan.
Di bawah sorotan lampu aula, spanduk besar bertajuk “Infrastruktur Berkeadilan untuk Konektivitas Pelayanan Berkualitas dan Ekonomi Berkelanjutan” menjadi latar utama. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan harapan yang dibawa oleh setiap Kepala Desa, Lurah, hingga tokoh masyarakat yang duduk melingkar di kursi-kursi yang telah disediakan.
Satu per satu usulan dipaparkan. Ada ambisi untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak, memperkuat drainase agar pemukiman warga tak lagi tergenang, hingga mimpi tentang akses pelayanan publik yang lebih dekat. Lembaran Daftar Usulan Rencana Kerja Pemerintah (DU-RKP) untuk tahun 2027 berpindah tangan, ditelaah dengan saksama oleh para pemangku kebijakan.
Kehadiran tokoh-tokoh kunci seperti Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Ade Sukron, Kepala Bappeda Dwi Sigit Andrian, dan Ketua Komisi II Ani Rukmini, memberikan bobot tersendiri pada pertemuan ini. Diskusi berlangsung dinamis saat Ahmad Fauzi dari Dinas SDABMBK memberikan catatan teknis mengenai proyek bina marga yang menjadi kebutuhan mendesak warga Babelan.
Camat Babelan, H. Khoirudin, tampak mengamati setiap sesi dengan serius. Baginya, momen ini adalah jembatan aspirasi.
“Kegiatan ini rutin kita lakukan setiap tahun, tapi maknanya selalu krusial. Ini adalah muara dari suara-suara di tingkat desa dan kelurahan,” ungkap Khoirudin di sela-sela acara. Ia menegaskan bahwa setiap poin yang disepakati hari ini akan menjadi landasan bagi wajah Babelan di tahun 2027 mendatang.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang birokrasi, tetapi juga ruang silaturahmi. Di sudut ruangan, para Kepala Sekolah SDN tampak berbincang dengan staf kecamatan, sementara tim monitoring dari Kabupaten sibuk mencatat detail-detail teknis. Ada semangat kolektif yang terasa: sebuah keinginan untuk melihat Babelan tumbuh dengan infrastruktur yang lebih adil dan merata.
Saat matahari mulai bergeser ke arah barat, pertemuan itu pun ditutup dengan kesepakatan-kesepakatan penting. Langkah mereka keluar dari gedung PUSIBA membawa beban harapan ribuan warga Babelan yang menanti realisasi dari tumpukan dokumen usulan tersebut.
Reporter: Shinta
Editor: Bisot








