Sosialisasi Kesehatan Komisi IX DPR RI: Obon Tabroni Ingatkan Bahaya Tramadol dan Penyakit Tidak Menular

Obon Tabroni Ingatkan Bahaya Tramadol dan Penyakit Tidak Menular

BEKASI, Tambun Utara – Suasana di Gedung Serba Guna (GSG) Tambun Utara tampak lebih riuh dari biasanya pada Jumat pagi (13/03/2026). Ratusan warga yang terdiri dari tokoh masyarakat, ibu-ibu penggerak PKK, tenaga kesehatan berpakaian putih bersih, hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan berkumpul dengan satu tujuan: menyimak arah pembangunan kesehatan daerah tahun 2026.

Di tengah riuhnya aspirasi warga, hadir sosok yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Bekasi, H. Obon Tabroni. Anggota Komisi IX DPR RI tersebut hadir bukan sekadar untuk seremoni, melainkan membawa misi edukasi krusial mengenai potret kesehatan masyarakat yang kian kompleks. Sebagai wakil rakyat yang membidangi kesehatan, ketenagakerjaan, dan kependudukan, Obon memahami betul bahwa kesehatan adalah investasi termahal sebuah bangsa.

Kesehatan: Fondasi Masyarakat Produktif

Membuka pemaparannya, Obon Tabroni menekankan bahwa visi Indonesia Emas tidak akan tercapai jika masyarakatnya masih berkutat dengan masalah kesehatan dasar. Ia membedah bagaimana program pemerintah di tahun 2026 akan lebih difokuskan pada peningkatan kualitas hidup melalui penguatan fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Kesehatan itu bukan hanya urusan dokter atau rumah sakit, tapi urusan kita semua. Jika masyarakatnya sehat, maka produktivitas meningkat, ekonomi keluarga terjaga, dan kesejahteraan akan mengikuti. Sebaliknya, satu anggota keluarga yang sakit kronis bisa mengguncang stabilitas ekonomi seluruh rumah tangga,” ujar Obon dengan nada yang tegas namun tetap persuasif.

Ia mengingatkan bahwa kesadaran untuk menjaga kesehatan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Pencegahan sejak dini melalui pola hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi kunci utama agar anggaran negara tidak habis hanya untuk membiayai pengobatan, melainkan bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur kesehatan yang lebih modern.

Menyingkap Tabir “Toko Kosmetik” Penjual Maut

Memasuki pertengahan sesi, suasana sosialisasi mendadak menjadi lebih serius. Obon menyoroti sebuah fenomena gelap yang tengah merayap di pemukiman-pemukiman warga: peredaran obat keras ilegal. Ia secara gamblang mengungkap modus operandi toko-toko kecil yang berkedok menjual kosmetik atau kebutuhan sehari-hari, namun di balik etalasenya, mereka menjajakan obat keras golongan G seperti Tramadol dan Eximer.

Obat-obatan ini, menurut Obon, dijual secara bebas tanpa resep dokter kepada siapa pun, termasuk anak-anak usia sekolah. “Ini adalah fenomena gunung es yang sangat berbahaya. Tokonya terlihat menjual bedak atau sabun, tapi di laci bawahnya ada obat keras yang bisa menghancurkan saraf generasi muda kita,” ungkapnya.

Obat jenis Tramadol, jika disalahgunakan, dapat menimbulkan ketergantungan akut, kerusakan otak, hingga memicu perilaku kriminal di kalangan remaja. Obon mendesak Badan POM, kepolisian, dan dinas kesehatan untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat dan tindakan represif terhadap toko-toko nakal tersebut. Ia juga meminta warga untuk berani melapor jika menemukan aktivitas mencurigakan di lingkungannya.

Obon Tabroni Ingatkan Bahaya Tramadol dan Penyakit Tidak Menular

Melawan “Silent Killer”: Dari TBC hingga Diabetes

Tak hanya soal penyalahgunaan obat, Obon juga membedah ancaman penyakit tidak menular (PTM) yang sering diabaikan karena sifatnya yang perlahan namun mematikan (silent killer). Ia menyoroti tingginya angka kasus Tuberkulosis (TBC), hipertensi, dan diabetes di masyarakat perkotaan dan penyangga seperti Bekasi.

Banyak warga, menurutnya, baru menyadari penyakitnya saat sudah terjadi komplikasi serius seperti stroke atau gagal ginjal. “Penyakit gula atau diabetes yang tidak terkontrol itu pintu masuk menuju stroke. Begitu juga darah tinggi. Jangan tunggu lumpuh baru mencari puskesmas,” imbaunya kepada warga yang menyimak dengan saksama.

Ia memberikan tips praktis mengenai pentingnya pengecekan kesehatan berkala. Mulai dari sekadar menimbang berat badan, cek tekanan darah, hingga memantau kadar gula darah secara rutin di fasilitas kesehatan terdekat. Pola makan yang terlalu tinggi karbohidrat dan gula, ditambah kurangnya aktivitas fisik, disebut sebagai musuh utama masyarakat modern saat ini.

Komitmen Pelayanan di Tahun 2026

Menutup kegiatan sosialisasi yang berlangsung selama beberapa jam tersebut, Obon Tabroni kembali menegaskan komitmen DPR RI dalam mengawal kebijakan pemerintah pusat agar selaras dengan kebutuhan daerah. Ia memastikan bahwa transformasi layanan kesehatan akan terus dilakukan, termasuk perbaikan kualitas pelayanan BPJS Kesehatan dan ketersediaan obat-obatan di Puskesmas.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Tambun Utara tidak hanya pulang membawa pengetahuan, tetapi juga membawa semangat baru untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang mampu membedakan mana obat yang menyembuhkan dan mana obat yang menghancurkan, serta sadar bahwa mencegah jauh lebih murah daripada mengobati.

Kegiatan berakhir dengan sesi tanya jawab yang hangat, di mana warga menyampaikan berbagai keluhan mulai dari antrean rumah sakit hingga permintaan pengadaan posyandu lansia yang lebih aktif. Obon mencatat setiap masukan tersebut sebagai bahan evaluasi dalam rapat-rapat kerja di Senayan mendatang. [Bisot/Shinta]

Pos terkait