KABUPATEN BEKASI — Upaya serius menekan potensi bencana hidrometeorologi di kawasan utara Kabupaten Bekasi terus digeber tanpa kendor. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersinergi erat dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk menuntaskan mega-proyek normalisasi Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) sepanjang 16 kilometer. Pengerjaan infrastruktur vital ini ditargetkan rampung sepenuhnya sebelum pergantian tahun.
Komitmen tersebut ditegaskan secara tegas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat melakukan peninjauan lapangan bersama Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja. Kunjungan kerja yang dipusatkan di Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, ini bertujuan untuk memonitor langsung hambatan teknis yang selama ini memperlambat laju aliran air sungai.
Sisa 1 Kilometer, Pemkab Bekasi Siap Gelontorkan Dana Talangan
Berdasarkan laporan di lapangan, proyek normalisasi yang membentang melintasi wilayah Kecamatan Cibitung, Tambun Utara, hingga Sukawangi ini sudah hampir tuntas secara keseluruhan. Saat ini, pekerjaan fisik tinggal menyisakan bentangan sepanjang satu kilometer saja.
Untuk merampungkan segmen penutup tersebut, dibutuhkan estimasi anggaran tambahan sekitar Rp2 miliar. Gubernur Dedi Mulyadi langsung memberikan instruksi cepat kepada jajaran eksekutif Kabupaten Bekasi agar segera mengamankan alokasi pembiayaan tersebut dari kas daerah.
“Harus kelar tahun ini. Butuh biaya berapa untuk sisanya? Rp2 miliar itu selesai lah sama Kabupaten Bekasi saja,” tegas Dedi di hadapan para pejabat setempat.
Dengan kucuran dana tambahan tersebut, kapasitas penampang basah Kali CBL dipastikan terdongkrak maksimal. Hal ini menjadi kunci utama agar volume air dari kawasan hulu Cikarang dapat mengalir lancar menuju muara tanpa meluap ke kawasan permukiman maupun jalur logistik industri.
Bongkar Jembatan hingga Restorasi Kali Mati
Selain pengerukan sedimen di alur utama, peninjauan tersebut juga menyoroti aspek tata ruang sungai yang kerap menjadi pemicu hambatan aliran. Sebanyak tiga unit jembatan di Desa Sriamur dinilai mempersempit penampang sungai (bottleneck). Gubernur menyatakan bahwa Pemprov Jabar siap mengerahkan alat berat guna mengangkat endapan lumpur sekaligus membantu pembangunan ulang jembatan setelah proses pembongkaran rampung.
“Sudah minggu saya siapkan alat untuk mengangkat lumpur-lumpurnya, sekarang dibongkar saja jembatan-jembatannya dulu. Setelah itu, jembatannya langsung kita bangun,” terang Dedi.
Tidak berhenti pada Kali CBL, fokus pembenahan juga diarahkan pada pemulihan Kali Mati di Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi. Aliran sungai historis ini mengalami pendangkalan ekstrem hingga sebagian besar jalurnya beralih fungsi menjadi kebun warga. Normalisasi ini sangat mendesak demi mengembalikan fungsi ekologisnya sebagai saluran pembuang air hujan sekaligus penyokong irigasi pertanian rakyat.
Sebagai tindak lanjut taktis, Pemprov Jabar dan Pemkab Bekasi dijadwalkan menggelar rapat koordinasi khusus pada akhir Oktober ini. Pertemuan tersebut akan mematangkan skema relokasi bagi warga yang terdampak penataan serta pemanfaatan dana darurat melalui pos Belanja Tidak Terduga (BTT).
Sinergi Kuat Demi Keamanan Warga
Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, menyambut hangat dukungan penuh yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pihaknya menyatakan kesiapan penuh untuk segera merampungkan sisa pembiayaan agar konektivitas aliran Kali CBL dari Cikarang hingga pertemuan Kali Bekasi dapat berfungsi secara optimal.
“Kita akan selesaikannya normalisasi Kali CBL tahun ini dan kekurangan anggarannya akan segera kita selesaikan tahun ini juga, sehingga normalisasi Kali CBL dari Cikarang hingga pertemuan Kali Bekasi ini bisa selesai,” ungkap Asep.
Selain itu, Bupati Asep juga mendukung penuh program lanjutan berupa normalisasi Kali Mati secara bertahap yang akan diteruskan hingga kawasan Cabangbungin. Terkait warga yang bermukim di bantaran sungai terdampak, pemerintah daerah telah menyiapkan solusi hunian relokasi yang layak dan humanis.
Melalui integrasi program normalisasi Kali CBL dan Kali Mati ini, sistem drainase makro di Kabupaten Bekasi diharapkan semakin tangguh. Langkah preventif ini diyakini mampu menekan risiko banjir musiman secara signifikan serta memberikan rasa aman bagi masyarakat saat menghadapi musim hujan mendatang.









